Maritim.teropongrakyat.co | Sebuah laporan terbaru dari Institute for the Study of War mengungkapkan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa hanya tiga kapal kargo dan satu kapal tanker minyak yang memasuki Teluk Persia melalui selat itu dalam periode 24 jam sejak Rabu (8/4/2026) pukul 14.00 waktu AS bagian Timur. Sementara itu, enam kapal kargo dan empat kapal tanker tercatat keluar dari teluk melalui jalur yang sama.
Angka tersebut menunjukkan penurunan drastis dibandingkan kondisi normal. Media Inggris Financial Times melaporkan bahwa sebelum dimulainya operasi militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mencapai sekitar 135 kapal per hari.
Sementara itu, kantor berita Rusia TASS mengutip sumber senior Iran yang menyebutkan bahwa berdasarkan kesepakatan gencatan senjata terbaru, Iran berencana membatasi jumlah kapal yang melintas menjadi maksimal 15 kapal per hari. Kebijakan ini disebut berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam dan telah disampaikan secara resmi kepada negara-negara di kawasan.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi distribusi energi global, terutama minyak dan gas. Penurunan drastis lalu lintas kapal di kawasan ini berpotensi memicu gangguan rantai pasok energi dunia serta meningkatkan kekhawatiran pasar internasional terhadap stabilitas kawasan.
Para analis menilai bahwa perkembangan ini akan terus dipantau secara ketat oleh pelaku industri pelayaran dan energi global, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai salah satu chokepoint terpenting dalam perdagangan dunia.

















