Jakarta, maritim.teropongrakyat.co — 12 April 2026, Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dan perkembangan kota Jakarta. Jauh sebelum berdirinya ibu kota modern, pelabuhan ini telah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan jalur perdagangan internasional.
Pada abad ke-12 hingga ke-16, Sunda Kelapa dikenal sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis di pesisir utara Pulau Jawa menjadikannya titik persinggahan para pedagang dari berbagai wilayah, termasuk dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Komoditas utama yang diperdagangkan saat itu antara lain lada, beras, dan hasil bumi lainnya.
Sejarah penting terjadi pada tahun 1527 ketika pasukan dari Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis. Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai tonggak berdirinya kota Jakarta, yang saat itu diubah namanya menjadi Jayakarta.
Memasuki masa kolonial, Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Namun, seiring perkembangan waktu dan meningkatnya kebutuhan kapal berukuran besar, Sunda Kelapa mulai mengalami keterbatasan akibat pendangkalan dan fasilitas yang tidak memadai.
Kondisi tersebut mendorong pembangunan pelabuhan baru yang lebih modern, yaitu Pelabuhan Tanjung Priok pada akhir abad ke-19. Sejak saat itu, peran Sunda Kelapa sebagai pelabuhan utama berangsur berkurang.
Meski demikian, hingga kini Pelabuhan Sunda Kelapa tetap beroperasi dan dikenal sebagai pelabuhan tradisional yang mempertahankan aktivitas bongkar muat menggunakan kapal kayu pinisi. Suasana klasik dengan deretan kapal layar tradisional menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi pelaku usaha maupun wisatawan.
Sebagai bagian dari warisan sejarah, Sunda Kelapa tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang perdagangan Nusantara, tetapi juga simbol kejayaan maritim Indonesia di masa lalu yang tetap hidup hingga hari ini.













